Event Terbaru

#WAKAFAGANZA #4

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Desember 2019 mencatat, jumlah investor saham syariah meningkat 54 % dari sebelumnya 44.536 investor di akhir 2018 menjadi 68.599 investor. Jumlah tersebut mewakili 6,2% dari jumlah investor ritel BEI.

Saham kini telah menjadi salah satu mauquf (benda wakaf) yg dapat di Wakafkan.

Bagaimana Konsep dan Prakteknya Wakaf Saham tsb?

ikuti Penjelasannya dalam acara #Wakafaganza bersama

AL GIFARI HASNUL
Divisi Pasar Modal Syariah IDX

Hari & Tanggal: Jum’at, 16 Oktober 2020

Waktu : 16.00-17.30 wib

Live On Zoom and Youtube

Daftarkan kepesertaan anda disini:
https://bit.ly/Wakafaganza2020
https://bit.ly/Wakafaganza2020
https://bit.ly/Wakafaganza2020

Dapatkan link group WA dan Zoom diakhir pengisian form registrasi

Hubungi Info Lebih Lanjut Untuk Registrasi
HP/WA : 0877 8670 3452

Welcome Bagi UMKM yang ingin promosi produk atau memberikan merchandise atau Sponsorship.
Akan ditampilkan dalam acara dalam berbagai bentuk dan penempatan.

#SubulaEvent
#WakafWarrior

Pendidikan

Pendidikan

Pendidikan berperan sangat penting pada kemajuan sebuah bangsa karena pendidikan dapat mengubah kehidupan dan memutus siklus kemiskinan. Berdasarkan data terbaru dari UNDP (United Nation Development Program) Indonesia bisa dibilang berhasil dalam melaksanakan tujuan kedua MDGs, yaitu memastikan bahwa semua anak menerima pendidikan dasar. Selain itu di 2012 pemerintah telah mengeluarkan program Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun sehingga anak Indonesia harus menyelesaikan pendidikannya minimal sampai dengan tingkat SMA.

Dengan program Senyum Juara, Rumah Zakat berkomitmen  untuk melakukan perbaikan kualitas pendidikan yang mencakup kategori penerima manfaat: siswa, infrastruktur, dan tenaga didik yang berkualitas sesuai dengan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals) yang memastikan bahwa seluruh anak Indonesia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah yang gratis, merata dan berkualitas yang mengarah pada dampak pembelajaran yang relevan dan efektif.

 

Kemanusiaan

Kemanusiaan

Sepanjang tahun 2018, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.999 bencana di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut dilaporkan sangat besar.

3.548 orang tercatat meninggal dan hilang, 13.112 orang terluka, 3.06 juta orang terlantar dan terkena dampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah-rumah sedikit rusak, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Rumah Zakat berpartisipasi dalam merespons bencana di hampir semua titik bencana melalui berbagai tindakan, mulai dari evakuasi, distribusi bantuan makanan, layanan kesehatan, layanan psikososial hingga berbagai program pemulihan pascabencana.

  1. Tanggap Darurat Bencana
  2. Dapur Umum
  3. Logistik
  4. Mesjid darurat: 1 unit
  5. MCK darurat di Huntara: 4 unit
  6. Psikososial
  7. Sekolah darurat: kelas 6
  8. Siaga kesehatan bencana: 100 penerima manfaat
  9. Rehabilitasi dan Rekonstruksi 
  10.  Kit kebersihan: 100 paket
  11. Kit keluarga: 100 paket
  12. Huntara: 1 room
  13. Set Dapur: 10 sets
  14. Kit Sekolah: 100 paket
  15. Desa Tangguh Bencana
  16. Simulasi siaga bencana
  17. Plang Rute Evakuasi
  18. Konseling Siaga Bencana
Kesehatan

Kesehatan

Berkaitan dengan turunan MDGs (Millenium Development Goals) PBB dalam Goal ke-3 SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu (Good Health and Well Being) yang mana menjamin kesehatan dan kesejahteraan untuk semua pada setiap tahap kehidupan dan juga Goal SDGs ke-2 (Zero Hunger) untuk mengakhiri kelaparan dan segala bentuk malnutrisi 2030, RZ merealisasikannya dalam program Senyum Sehat secara terintegrasi.

Senyum Sehat merupakan program perbaikan kualitas kesehatan masyarakat yang berbasis individual, komunal, swadaya masyarakat. Adapun realisasi program tersebut berupa Khitanan Massal, Ambulance Gratis, Siaga Sehat, Bantuan Kesehatan, Kebun Gizi, Klinik Gratis, dll. Program ini juga aktif menggandeng berbagai instansi untuk bekerja sama, seperti korporasi-korporasi juga lembaga terkait lainnya.

 

Wakaf Produktif

Wakaf Produktif

Wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan agama. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Wakaf merupakan ibadah maliyah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Harta benda yang diwakafkan, nilai dari wakafnya tetap, sedangkan hasil dari pengelolaan wakaf selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu. Wakaf produktif adalah sebuah skema pengelolaan donasi wakaf dari umat, yaitu dengan memproduktifkan donasi tersebut, hingga mampu menghasilkan surplus yang berkelanjutan.

Donasi wakaf dapat berupa benda bergerak, seperti uang dan logam mulia, maupun benda tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan. Surplus wakaf produktif inilah yang menjadi sumber dana abadi bagi pembiayaan kebutuhan umat, seperti pembiayaan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Pada dasarnya wakaf itu produktif dalam arti harus menghasilkan karena wakaf dapat memenuhi tujuannya jika telah menghasilkan dimana hasilnya dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya (mauquf alaih). Orang yang pertama melakukan perwakafan adalah Umar bin al Khaththab mewakafkan sebidang kebun yang subur di Khaybar. Kemudian kebun itu dikelola dan hasilnya untuk kepentingan masyarakat. Tentu wakaf ini adalah wakaf produktif dalam arti mendatangkan aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sahabat, Wakaf Warrior memfasilitasi Anda untuk menunaikan wakaf, dalam pengelolaan Wakaf

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN MENTAL DI TENGAH PANDEMI

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN MENTAL DI TENGAH PANDEMI

Psikolog yang juga merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Siti Muthia Dinni mengatakan, menjaga kesehatan fisik di tengah pandemi Covid-19 sangat penting dilakukan. Begitu pun dengan menjaga kesehatan mental.

Muthia menuturkan, kesehatan fisik sangat berkaitan erat dengan kesehatan mental. Situasi pandemi membuat sebagian orang menjadi stres, panik, khawatir hingga cemas.

Hal ini tentu berdampak pada kesehatan mental. Bahkan, Muthia menyebut, kondisi ini dapat membuat hilangnya rasa aman dan kondisi kesehatan pun juga dapat menurun.

“Di masa seperti ini, orang akan mengaktifkan mode survival dalam dirinya. Berusaha untuk tetap tegar menghadapi kondisi yang belum pernah dirasakan sebelumnya,” kata Muthia berdasarkan keterangan resminya di website UAD, Senin (28/9).

Untuk itu, menjaga kesehatan mental menjadi hal penting di masa pandemi ini. Muthia menuturkan, hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental diantaranya dengan rutin olahraga, menjaga pola makan.

Selain itu, memilah informasi terkait pandemi Covid-19 juga dapat dilakukan guna mencegah kecemasan yang berlebihan. Dengan begitu, dapat terhindar dari berita palsu atau hoaks yang dapat menyebabkan panik dan cemas.

“Jangan lupa untuk menjaga komunikasi yang baik dengan teman, walaupun sekadar berbagi keluh kesah,” ujarnya.

Sementara itu, upaya untuk membantu orang lain dalam menjaga kesehatan mental di tengah pandemi ini juga penting dilakukan. Menurut Muthia, menjadikan diri sebagai tempat untuk bercerita bagi orang lain dapat mengurangi panik dan cemas yang berlebihan dari orang lain, terutama orang terdekat.

“Membantu orang lain menjaga kesehatan mental adalah menyediakan diri sebagai sarana untuk tempat bercerita dan berbagi keluh kesah, maupun beban psikologi lainnya, bersikap aktif dan berempati, memberikan rasa aman dan nyaman, serta saling memberikan dukungan,” ucap dia.

Walaupun begitu, stres, rasa khawatir, panik dan cemas yang berlebihan menjadi efek psikologi yang wajar dihadapi. Perubahan pola keseharian yang berbeda, kata Muthia, membuat tekanan mental menjadi terganggu.

“Manusia akan mengaktifkan mode fight dalam melawan semua permasalahan sebagai upaya mendeteksi dini kesehatan mentalnya,” kata Muthia.

sumber: republika.co.id

Sumber : https://www.rumahzakat.org/pentingnya-menjaga-kesehatan-mental-di-tengah-pandemi/

UJIAN PENINGKAT DERAJAT

UJIAN PENINGKAT DERAJAT

Oleh: Nur Faridah

Bagi orang beriman, hidup sejatinya adalah panggung ujian. Ujian itu tak mesti melulu berbentuk sesuatu yang buruk. Ujian bisa juga sesuatu yang baik. Allah berfirman, “Setiap jiwa pasti akan mati. Dan, Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; kepada Kamilah kalian kembali.” (QS al-Anbiya’ [21]: 35).

Ketika manusia lahir ke dunia, bahkan ketika masih di dalam kandungan, ia sudah mengalami banyak ujian. Ia diuji, misalnya, dengan ibu yang mengandungnya. Apakah sang ibu dengan tulus menjaganya, memberinya asupan yang baik agar tumbuh sehat hingga waktu melahirkan tiba; atau sebaliknya, tak peduli, bahkan dengan tega menggugurkannya karena tak menginginkannya.

Setelah lahir, manusia makin bertambah ujiannya. Apakah orang tua akan merawatnya atau menelantarkannya, mendidiknya dengan baik atau menyia-nyiakannya, mensyukurinya atau malah menyesal telah melahirkannya. Semakin dewasa, ujian makin bertambah ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Ternyata, tidak semua orang bersikap baik, bahkan ada yang menyakitinya atau berbuat jahat terhadapnya.

Seperti pada ayat di atas, ujian tak mesti berbentuk sesuatu yang buruk. Lahir dalam lingkungan yang berada, dengan asupan makanan dan gizi yang baik, dirawat dengan baik, itu juga ujian. Apakah kelak dari semua kebaikan dan keberuntungan itu ia akan menjadi pribadi yang bersyukur, mengenal Allah, baik terhadap orang lain, tertanam rasa empati dan simpati terhadap orang lain yang tak seberuntung dirinya atau tidak. Apakah akan menjadi pribadi yang saleh atau sebaliknya, menjadi pribadi yang individualis, egois, angkuh, dan tak peduli dengan sesama.

Orang beriman yang menyadari posisi dirinya dalam hidup akan melihat keburukan dan kebaikan sebagai kesempatan emas untuk tetap istiqamah dalam kebaikan. Ketika didera keburukan, ia akan tetap ingat Allah, tetap baik dalam hubungan sosial dan bersabar dengan apa yang dialami.

Pun ketika merasa berada dalam kebaikan, kehidupan yang nikmat, tak kekurangan, serbacukup, ia akan menyadari ada orang-orang yang tidak sebaik dirinya. Dari situ lahir empati dan kepedulian terhadap orang-orang yang tak mampu, lalu ia menjadi orang yang ringan tangan memberi tanpa pamrih serta berbuat semampunya untuk membantu.

Orang seperti itulah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai mukmin sejati yang beruntung di dunia dan di akhirat, “Sungguh mengagumkan perihal orang mukmin; semua hal yang menimpa mereka membuahkan kebaikan yang itu tidak didapatkan oleh selainnya: jika ia mengalami kelapangan atau kebaikan ia bersyukur, maka itu baik buatnya. Dan, jika ia mengalami kesempitan atau keburukan ia bersabar, maka itu juga baik buatnya.” (HR Muslim).

Orang beriman pasti akan diuji dengan keburukan dan kebaikan selama ia masih hidup. Hal itu tidak lain untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah serta membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh empati terhadap sesama manusia. Wallahu a’lam.

sumber: republika.co.id

Sumber : https://www.rumahzakat.org/ujian-peningkat-derajat/